Sunday, January 13, 2013

Keponakan-Keponakan Saya

"Dakwah kadang mulus dan kadang terhambat."
Apa alasan saya mengatakan itu? Tentu saja dengan beberapa stimulus-stimulus yang saya dapatkan. Serasa menggenggam bara api, kadang kecewa, marah, bahkan menyalahkan diri sendiri, mengapa keponakan-keponakan saya sulit dibimbing dalam konteks:
a. Jangan mengambil makanan terlalu berlebihan.
b. Jangan makan berdiri.
c. Masuklah dengan memberi salam.
d. dll.
Ketiga unsur di atas, adalah momentum "berat" yang ada di depan mata saya, entah ketika makan, berada di dalam rumah, dan situasi tertentu: khususnya do'a.
Kebijakan yang saya ambil adalah menyalahkan pihak "sumber". Siapa itu? Tentu saja bukan Anda, melainkan saya pribadi, karena saya yang lebih dekat dengan mereka, bukan Anda. Sehingga, kadang dalam iklim do'a saya, mengharapkan hidayah mengena mereka. Melekat pada pola hidup mereka: keponakan saya yang masih kecil-kecil.
Harapan jelas ada, yang tidak ada adalah putus asa!
Memang, hidup ini adalah fitnah. Jika saya terjemahkan pada konsep, fitnah adalah cobaan.
"Cobaan bukan untuk ditangisi!" hibur beberapa motivator.
Tapi, kadang saya tangisi juga! Sekali lagi berat! Mereka adalah generasi Rosululloh, penerus Islam, apa jadinya jika orang di sekitarnya (baca: saya) tidak berkontribusi pada segmen perubahan mereka?

4 Agustus 2011

0 comments:

Post a Comment

Silahkan diisi, komentar Anda sangat membangun: بارك الله فيك