Monday, December 31, 2012

Dengarkan Ini, "Jangan ke Toko Buku!" Sekali Lagi, "Jangan ke Toko Buku!"

Siang mengejar sore kemarin, sempatkan diri ke toko buku yang ada di Makassar, namun ada kekeliruan pada saya karena tidak menakar orientasi pembelian di sana nanti. Perjalanan dengan menggunakan pete-pete (baca: transportasi Makassar) sekitar 30 menit. Tiba dengan seleksi ketat, bayangkan saja tas yang hanya taksiran 500 mg, menuntut pemeriksaan ketat [baca: awas bom di Mall]. Inilah salah satu produk di negara tercinta kita, dan hal ini tentunya harus mendapatkan apresiasi masyarakat. Menimbang masih banyak oknum "samar" menrajalela di negeri tersayang ini.

Toko buku adalah hobi perjalanan saya, dan harapan kita semua, masyarakat di dunia ini mencintai toko buku, dengan selektif menyeleksi buku bacaan. Karena dekade ini, kian menjamur buku menyesatkan,  meskipun itu konten islamiy, kasih-sayang, etc. Tapi, tetap konsistenlah menakar bacaan, belajar mengambil sumber yang jernih, bukan tercampur-baur khayalan penulis.

Rajin ke toko buku, saya rasa kita sehobi. Kalau ke Mall atau lagi banyak uang di kantong. Dan disiyalir "ke-rajin-an" ini memiliki dampak buruk, kotor. Apa maksud saya mengatakan demikian? Perhatikanlah, siapa orang yang kerap masuk menjamuri toko buku? Apakah hari ini mereka sudah memiliki karya sebagaimana buku belian mereka? Karena itulah saya berpandangan "Rajin ke Toko Buku, Menjadikan Diri Pasif Menulis".

Saya tentunya berharap, penyakit ini jangan kita idap. Mendingan buku yang masih duduk tenang di rak buku, harus kita resensikan dalam tulisan, ingat, sekali lagi, buku "tidak menyesatkan". Jangan mengambil estafet dosa jariyah.
Saya yakin, bagi peminat profesi kepenulisan ini, sadarlah, penulis pun "jarang" ke toko buku. Mereka hanya sibuk melototi buku lama mereka, dan layar komputer. Karena itulah, kalau mau jadi penulis, ikuti pula jejak penulis.

Selamat meninggalkan kebiasaan pasif, dan selamat datang di dunia aktif menulis. Inilah kolom kita: kompasiana. Memuluskan perjalanan kepenulisan manusia. Anda yang membaca tulisan ini, ketahuilah, saya menulis di tengah kesibukan menjadi kasir sebuah toko buku. Namun, mempung "bos"-ku tidak lihat, maka On-Line jalan terbaik, lagi pula tak ada pelanggan mau bayar. Kalau bukan sekarang, "when else?"

26 Desember 2011

0 comments:

Post a Comment

Silahkan diisi, komentar Anda sangat membangun: بارك الله فيك