Monday, December 31, 2012

Mengapa saya cemburu pada penulis yang "ini"

Baru saja, saya lupa jam tepatnya. Salah seorang rekan saya menawarkan link ke web dimana tulisannya "ia" posting. Sebagai bentuk tawaran, tentunya kita tidak boleh menolah hal itu. Pertimbangan ia kawan dan ia "invite me". Tiba di lapak tersebut. Luar biasa! Semua postingannya rerata sudah diterbikan diberbagai media massa: kompas, fajar, tribun, etc. Hanya ada 3 yang saya lihat. Salut! Subhanalloh! "Kok saya tidak seperti dia ya?" gumam diri saya dalam-dalam.

Perlu Anda ketahui, ia itu "sejajar" dengan saya. Sama-sama pria. "Lah, wong saya kok tidak seperti penulis produktif itu?" Salah satu biangnya karena memang saya "tidak pernah mengirim lagi naskah kok!" Alasannya apa? Bukankah itu popularitas dambaan penulis? Itukan pilihan jutaan ummat? Karena melalui media kita akan dikenal khayalak? Tunggu saya jawab,...

Gini, rasa cemburu pasti ada. Rasa iri memang ada. Karena dengan persepsi "malu" itu, memberikan proyeksi pemikiran ke arah lebih depan. Titik fokus jawab sederhananya: menulis adalah luas! Prinsipil saya "out of the box", bahkan "out of the writing rules". Dan mudah-mudahan Alloh memberikan keluasan untuk menuliskan naskah "Penulis Mendebat Penulis", yaitu mengeritk teori penulisan yang kian salah, berawal dari niatnya, teknikanya, etc. Insya Alloh.

Menulis hanya menulis, yang berawal dari asumsi "innamal a'malu binniyat".... Niat saya dalam globalisme penulisan ringkas saja, "Jangan menjadi karakter redaksi", jika mengirimkan naskah, pasti selera redaksi menjadi tolak ukur. Makanya, kita kian "berkeringat" mencari tips selera penerbit/redaksi, menjajaki aktor yang telah populer pada penerbit tersebut. Namun, sekali lagi, jangan seperti itu, karena hal itu memberikan kebimbangan karakter kepenulisan kita. Menulis itu susah. Ya, sekali lagi saya ulang, "MENULIS MEMANG SUSAH". Kapan? 

Ketika kita tidak mengetahui untuk siapa kita menulis dan dalam niat apa menulis?

Longgarkan diri dari baju penerbit/redaktur. Lebih baik kita "self publising". Bukankah semua penulis bisa melakukan itu.? Hanya gen "kemalasan" yang masih menggerogoti stigma penulis.

26 Desember 2011

0 comments:

Post a Comment

Silahkan diisi, komentar Anda sangat membangun: بارك الله فيك