Monday, December 31, 2012

Mana Tetesan Air Mata di Tulisanmu, Wahai Penulis!

Baru saja terpikir, mengitip beberapa apresiasi tulisan kawan-kawan. Entah yang telah dilirik maupun masih disimpan oleh mereka. Reaksi sebuah tulisan sangat beresiko! Bayangkan saja, komunitas Yahudi di Israel disinyalir oleh provokasi tulisan pendek. Sehingga menggerakkan massa untuk berupaya mendirikan Israel. Itulah efek sebuah tulisan. Gambaran karya. Karena itulah, tak salah seorang kawan di rapat, mengatakan

Jika menulis dengan senang, maka pembaca akan senang.
Jika menulis dengan marah, maka pembaca akan marah.
Jika menulis dengan air mata, maka pembaca akan menangis.

Hingga saat ini, saya sangat deal statement itu. Saya yang kini masih kerja di sebuah toko buku, mendapatkan beragam jenis esensi tulisan, sekali lagi bukan kepandaian bersilat huruf. Melainkan bagaimana sebuah tulisan bisa memberi pengaruh "positif" bagi para konsumen. Memang dunia para pecinta dunia aksara, memiliki orientasi karya majemuk, ada yang ingin mencari popularitas, menarget nafkah, etc. Pokoknya, semua terniatkan. Dan ingat, selau ada resiko.

Sedihnya, jika salah seorang penulis, sangat jarang mengeluarkan tulisan genre "air mata". Apa maksudnya? Yaitu "tulisan yang membuat seseorang itu menangis di dalam hati, dan maksimal terlihat tangisannya pembacanya." Ini bukan pemaksaan, tapi hal itu akan terwujud jika Anda pun menangis dalam upaya menerbitkan karya itu.

Dan point sensitf, karya sensitif yang bisa meraih tangisan para pembaca adalah persoalan keislamannya. Yang kini rata-rata orang sudah kehilangan cinta kepada Alloh dan Rosul-Nya.

"Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi." Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'. " (Al-Isra: 107-109)

Imam Al-Qurthubi berkata tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala (yang artinya):
." Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'. " Dalam hal ini Allah berlebihan dalam mensifati mereka sekaligus pujian buat mereka dan merupakan hal yang wajar bagi setiap muslim yang yang memiliki ilmu atau sedikit dari ilmu untuk menggapai kedudukan semacam ini, merasa khusyuk, tunduk merendah diri ketika mendengar bacaan Al¬ Qur'an. Lalu beliau berkata bahwa ayat ini sebagai bolehnya menangis dalam shalat yang timbul dari perasaan takut kepada Allah atau perbuatan maksiatnya dalam agama ini. Dan yang demikian itu tidaklah membatalkan atau mengurangi kesempurnaan shalat."

Abdul-'Ala At-Taimi berkata: "Barang siapa yang memiliki ilmu dan tidak bisa membuatnya menangis maka patut dikatakan ia telah mendapat¬kan ilmu yang tidak bermanfaat baginya. " Karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menyebutkan tentang sifat dari ahlul ilmu dalam AI-Qur'an:
"Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi". Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu." (Al-Isra: 107-109)

Sesungguhnya apa yang didapati oleh seseorang dari perasaan gemetar pada hatinya, air menetes dan tubuh yang merinding disaat mendengar ayat-ayat Allah atau dzikir yang masyru' (disyariatkan) maka ini adalah seutama-utama keadaaan yang telah disebutkan dalam Al-Kitab dan As Sunnah.

Oleh karena itu, mari kita terapkan tetesan air mata itu. Dimulai dari tulisan apa? Bukan tulisan wahai saudaraku! Tapi, bacaan kita, ya, kebutuhan kita, itulah Al-Qur'an, yang kini hanya wejangan tahunan. Bacalah itu. Dan rasakan keistimewaannya.

Barokallohu fik.

12 Desember 2011

0 comments:

Post a Comment

Silahkan diisi, komentar Anda sangat membangun: بارك الله فيك