Monday, June 3, 2013

Kenali Cinta Versi "Anak Muda" yang Baru Menikah

بِسْمِ-اللهِ-الرَّحْمنِ-الرَّحِيم
Ada saatnya melihat usaha seseorang. Kinerja pribadi yang menjadikan diri ini "malu" melihat orang itu. Meskipun orang itu tidak cacat, namun kadang-kadang ada usaha mereka yang patut kita jadikan teladan.

Sedikit lagi toko akan ditutup. Ada pelanggan naik ke lantai 2, berbelajanja. Sementara tingkat 2 hanya peruntukan wanita. Meliputi kaos kaki, jilbab, mukena, dan sandal wanita. Maka dia menimpali,
"Saya mau carikan jilbab untuk istri," pinta remaja ini.

Untuk apa sih pemuda ini repot-repot? Bukankah istri punya kaki sendiri untuk berbelanja?
Bisa saja, pemuda ini sudah mendengar firman Alloh subhanahu wa ta'ala, yang artinya:

"Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan putri-putrimu serta wanita-wanita kaum mukminin, hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka di atas tubuh mereka. Yang demikian itu lebih pantas bagi mereka untuk dikenali (sebagai wanita merdeka dan wanita baik-baik) hingga mereka tidak diganggu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Penyayang." (Al-Ahzab: 59)
Sehigga atas dasar itu timbul "kewajiban" bagi sang suami, menjadikan istri lebih istimewa.

Masih muda sudah memiliki semangat memberi "hadiah". Inilah yang harus dimiliki setiap insan. Bagaimana cara menyajikan cinta versi "hadiah". Apalagi reward berupa busana penutup aurat. Yang dalam konteks kekinian orang malah lari dari "kewajibannya" menutup aurat. Saya salut kepada orang ini.

Dalam dialog itu, ia meminta tawaran lebih murah lagi. Namun sayang, di toko kami adalah harga pas. Kecuali, niatnya ingin menjual kembali. Sebenarnya bisa menurunkan harga itu. Memberikan diskon. Tapi, ada "atasan" yang sudah memberi mandat. Peruntukan potongan harga, hanyalah bagi penjual juga.

Ah, saya tidak usah memperlebar kasus "diskon" ini. Saya hanyalah karyawan, berusaha memaksimalkan diri melaksanakan tipoksi (Tugas Pokok dan Fungsi).
Kembali ke awal, lelaki itu merupakan contoh bagi kita, teladan bagi kita. Bahwa ada pokok interaksi bersama istri yang kita lupakan. Sadarkah kita cinta itu mudah didapatkan? Dan cinta itu mudah pula menghilang? Lantas, usaha apa "mengawetkan" rasa cinta itu agar bertahan lama?
Inilah jawabannya: HADIAH. Saya tahu, masih jamak metode lain dalam rangka melanggengkan hubungan suami istri. Namun, kali ini fokus kita kepada hadiah. Berupa jilbab.
Jujur, mengangkat tema keluarga adalah berat bagi saya. Bukan berarti ada bebang saya pikul. Sebab saya dalam posisi santai sekarang. Saking santainya, penulis artikel ini masih "bujang", alias belum menikah.
Dan rasanya tidak ada salah "menyarankan" pola interaksi suami-istri itu. Kita hanyalah insan yang dhoif (lemah), karena itulah mari kita isi dengan ragam "inbox" nasihat. Alhamdulillah, sudah puluhan pula buku tematik kekeluargaan saya baca.
Hmm...
Keluarga adalah perihal urgen. Tidak ada karir tertinggi selain di tempat ini. Di sinilah Alloh akan memintai kita selaku "pemimpin" dalam keluarga. Selaku istri yang taat. Selaku anak yang berbakti.

Inilah jembatan hati kita. Bagaimana suami menjembatani istri dalam menghadapi badai kehidupan. Menggalang kekuatan bersama, meskipun dimulai dari hadiah kecil: jilbab. Berdaulat dalam dakwah.
 11 Februari 2012
بارك الله فيك

0 comments:

Post a Comment

Silahkan diisi, komentar Anda sangat membangun: بارك الله فيك