Tuesday, April 2, 2013

Kok Bisaaa???? Hanya Penjual Gas Keliling, Pendapatannya 3 Juta Lebih Per Bulan [Siapa Sebenarnya Dia!!???]

بِسْمِ-اللهِ-الرَّحْمنِ-الرَّحِيم
Ibuku tercinta menjelang magrib memanggil seorang penjual gas dari jarak jauh. Menimbang gas di rumah menjelang habis dan menimbang musim hujan semakin larut. Tawar menawapun terjadi. Dia menjual dengan harga Rp 11.000/gas yang 3 kg. Ibuku tercinta sudah sepakat harga, tapi dibarengi dengan permohonan, "Bisa dipasangkan?" Sang penjual pun tidak merestui hal itu, ia berangkat dengan laju meninggalkan rumah idaman saya. Sementara hujan kian menderas.
Sempat saya menoleh kepada orang itu sebelumnya, maksudnya penjual tadi, dan saya teringat, "Kayaknya itu guru!" Wah, saya kaget, sembari memikir, "Kenapa guru ini menjual gas?" Bukannya status PNS sudah patut dibanggakan, toh setifikasi sudah di pundak. Teringat saya gaji PNS, sudah melambung, kisaran 3 juta lebih. Belum lagi, tunjungan sertifikasi.

Lanjut, saya menginformasikan ke orang tua, "Ma', tadi itu guruku, teman mengajar!" Ibu menyambut heran, "Haahhh, .. Kenapa kamu tidak bilang dari tadi!" Dalam hati berbisik, "Sudahla, Ma', nasi sudah menjadi basi, apalah artinya melihat sejarah lampau. Itu kan membuka pintu syaiton!"

Menarik dan sedih saya membahas ini. Ketertarikan saya, karena ia mencontohkan "pribadi" biasa. Tidak memperdulikan profesi menjanjikan ini: PNS [GURU]. Dan kesedihan saya, karena ia menopang puluhan gas 3 kg hanya dengan sepeda motornya. Layaknya gambar di atas. Tapi, yang di atas cuma ilustrasi.

Duhai, betapa diri ini malu, malu terhadap kemalasan mencari nafkah untuk kebutuhan hidup. Bukankah pribadi di atas sebagai cermin bagi setiap guru. Perlu perjuangan keras. Memang malu pasti ada, namun jangan sampai mendominasi diri. Sehingga tidak melangkah.

Ia telah menggambarkan dirinya sebagai suami ideal, mari kita simak ayat al-Qur'an menyentil kedudukan suami menafkahi istri,

"Hendaklah orang yang diberi kelapangan memberikan nafkah sesuai dengan kelapangannya dan barangsiapa disempitkan rizkinya maka hendaklah ia memberi nafkah dari harta yang Allah berikan kepadanya. ." (Ath-Thalaq: 7)


Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu ketika menafsirkan ayat dalam surah Al-Baqarah di atas, menyatakan, "Maksud dari ayat ini adalah wajib bagi seorang ayah untuk memberikan nafkah kepada para ibu yang melahirkan anak-anaknya serta memberi pakaian dengan ma'ruf, yaitu sesuai dengan kebiasaan yang berlangsung dan apa yang biasa diterima/dipakai oleh para wanita semisal mereka, tanpa berlebih-lebihan dan tanpa mengurangi, sesuai dengan kemampuan suami dalam keluasan dan kesempitannya." (Tafsir Ibnu Katsir, 1/371)

***

Saudaraku yang baik, janganlah kita menganggap usaha yang di mata manusia fobi, menyebabkan kita lari dan malu. Sudah banyak pribadi teragung, tapi toh memberikan contoh kesederhanaan. Lihatlah, Pak Dahlan Iskan. Hanya menaiki kereta api menuju "medan" kerja.

Dan masih banyak lagi, fenomena "mencengangkan" kita, karena mereka keluar dari pemikiran "malu" mencari nafkah.
26 Desember 2011
بارك الله فيك

0 comments:

Post a Comment

Silahkan diisi, komentar Anda sangat membangun: بارك الله فيك