Tuesday, April 2, 2013

Belum PNS? Engkau Belum Jadi 'Orang'

بِسْمِ-اللهِ-الرَّحْمنِ-الرَّحِيم
Kalau ada mengatakan menulis itu mudah, saya rasa itu sekedar provokasi keliru. Sebab, menulis itu bukanlah hal instan. Harus ada kebiasaan dan tulisan orang-orang itu murni dari niat ikhlas. Karena itulah, mencoba lagi membagi kepada rekan-rekan sekalian pristiwa apa terjadi bersama saya.

Sore tadi, sempat berdialog bersama ibu saat saya sedang makan. Tiba-tiba tanda diminta, seekor kucing mengeong. Jelas sekali visi kucing itu. Ada 'keperluan' perut hendak ia konsumsi. Semacam pinta memenuhi kebutuhan fisik. Ibu lantas memberi saran,

"Nandar, beri sebagian makananmu sama kucing!"
Dengan segera saya memberi tulang ayam ke kucing itu. Beberapa selang, saya menimpali,

"Ma, kok kucing bisa hidup ya? Padahal dia kan bukan PNS (Pegawai Negeri Sipil)?"
Diam-diam ibu tertegun.

Sengaja berkata demikian, bukan tanpa maksud. Jamak bersama kita, mendengar 'omongan' orang tua dan kawan-kawan, katanya:

"Hidup kamu akan bahagia kalau PNS. Kalau tidak, kamu akan rugi! Tidak sukses!"
Setuju?
Merupakan hal 'bodoh' kalau kita latah tanpa mengecek stigma seperti itu. Lagian, mereka berkata demikian karena persepsi mereka sudah di bangun di atas doktrin 'dunia itu sempit'. Tidak ada lagi ruang kerja, kecuali PNS. Cobalah ganti, bertanya kepada para wirausahawan, mereka malah membantah, "PNS itu sok tau soal kehidupan, padahal kalau menimbang kekayaan mereka kalah dari kami."

Namun, kali ini bukan tujuan saya mempertentangkan 2 profesi itu. Saya hanya membagi persoalan bagaimana seorang hamba itu mencari nafkah. Berusaha menjaga diri dari minta-minta. Yang kemudian menggantinya tangan di atas.
Sebagai suami hendaknya tidak melupakan mengenai kewajibannya yang harus ia tunaikan agar tercapai impian keluarga sakinah. Salah satunya dengan mencari nafkah. Menyediakan kebutuhan finansial, mengenyangkan perut keluarga, memfasilitasi kebutuhan istri, dan keperluan lainnya yang bersifat primer.

Sementara, dilingkungan sekitar kita, sudah 'menyelimuti' zaman kiwati yang sangat matrealistis & hedon, bukan hal mudah hidup dengan sifat keterbatasan. Sehingga butuh 'kedewasaan' berpikir, bagaimana langkah ditempuh, meracik trik, hingga mendapatkan solusi dalam perkara ini.

Begitupula seorang anak, bukanlah kebaikan apabila hanya berdiam diri di rumah. Sementara kedudukan ia telah baligh. Memiliki indra berarti identik memiliki 'kesanggupan' mencari nafkah buat keluarga. Sangat berbeda antara dibiayai dan membiayai. Perbedaan hanya di imbuhan. Namun, dari sektor aplikasi, rasanya imbuhan 'me-' lebih dewasa.

Di kalangan masyarakat, kerap tidak memberikan penghargaan bagi seseorang yang memiliki prestasi 'keimanan'. Apa itu prestasi 'keimanan'? Perhatikanlah seorang suami yang patuh mengikuti 5 shalat wajib di masjid, simaklah anak rajin ikut ta'lim, bukalah mata pada seorang istri yang mematuhi suaminya. Inilah contoh-contoh konkrit prestasi 'keimanan' itu. Namun, bersamaan dengan itu, kadang pribadi kita tidak menghargai itu, malahan kita lebih 'menyimak' prestasi lahiriah seseorang. Dan melupakan ada 'batin' di sana lebih jujur.

Kita mengajukan jempol pada insan 'berdompet tebal', dan mengarahkan jempol ke bawah pada hamba 'beriman tebal'. Malu rasa diri ini. Dimanakah hati kita sebenarnya? Bukankah ketenangan ada di dalam hati? Dan sebab-sebab mencari hati itu sudah kita dapat dengan melihat aturan agama? Mengapa harus keluar dari koridor itu?
Kita telah buta, rabun. Bukan mata ini yang buta, tetapi hati telah 'mati'. Astagfirullloh.

Lumrah orang mengatakan mengatakan, 'belum jadi 'orang' kalau belum kaya'. Bahkan, lebih tragis, 'belum jadi 'orang' jika belum PNS?'

Apakah ada ayat?
Ada hadits yang shohih mendukung 'Siapa yang belum jadi 'orang' kalau belum kaya'?
Kita tidak membenci kekayaan. Tidak!
Yang keliru yakni saat kita melupakan sisi 'batin' seorang hamba. Dan disinilah kekayaan sesungguhnya. 'The comfort zone'.
Ah, malu rasanya diri ini. Malu saat 'mematenkan' sisi lahiriah dalam menilai seseorang.

Saatnya kita mengoreksi diri kembali, mengecek diri ini, mendiagnosa bagian batin. Siapa tahu, kitalah orang-orang itu yang hanya menilai dari lahiriah.

Bukan artinya dengan mengepankan bathiniah artinya menyepelekan lahiriah. Ini persoalan prioritas dalam memilih orientasi kehidupan. Bagi orang yang mengutamakan prestasi 'keimanannnya', insya Alloh, Alloh-lah pemberi rezki itu.

Rosululloh Shallollallohu 'Alayi Wasallam bersabda : Sungguh seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung, mereka berangkat pagi-pagi, dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang. (HR. At-Turmuzi)
Semoga hari-hari ke dapan. Tidak ada lagi 'vonis' semerautan. Biarlah kita menjadikan 'bathin' lebih baik dulu. Yang kemudian berusaha mencari nafkah untuk 'lahiriah' sebagaimana kutipan hadits di atas.
13 Februari 2012
بارك الله فيك

0 comments:

Post a Comment

Silahkan diisi, komentar Anda sangat membangun: بارك الله فيك