Tuesday, April 2, 2013

Hanya Berdagang Sosis, Motornya 90-an, Untuk Apa Kamu Dibanggakan?

بِسْمِ-اللهِ-الرَّحْمنِ-الرَّحِيم
Sepulang shalat isya, merupakan momen tak terkira datangnya. Adalah penjual sosis. Dahulunya ia berdangan "somai", namun faktor perhitungan hasil dan teknis penyajiannya cukup lama, maka berlalihlah ke "sosis". Memang salah satu pintu rezki teragung adalah via dagangan, transaksi jual beli, apalagi fokusnya pada makanan. Mengapa? Karena ada kontribusi asupan perut kepada pihak lain, seolah-olah tumbuhnya "daging manusia", "tingginya ukuran tubuh", dipengaruhi keberadaan penjual makanan.

Nah, baru tadi mendapat kesempatan emas, berada di bekang motor tahun 1990-an serasa hal langka. Di saat kita jamak bersama motor kontemporer. Motor keluaran terbaru dari beraneka produksi. dan terkadang kita terhimpit degannya, bukan karena motornya sempit, melainkan cicilan motor yang kian dipikirkan tiap bulan.

Hmm.

Angin sejuk menerpa tubuh, keringat yang tadinya hampir keluar, kembali masuk ke dalam tubuh. Memang, kadang hal lama itu memberikan warna tersendiri. Ada rasa kangen memendam dalam diri. Motor lama, berimbas pada kekangenan lama pula.

Saat itu, dalam perjalanan, rekan penjual mengutarakan keutamaan motornya, "Ini lebih baik stirnya, tidak goyang seperti motornya Fulan!" Wah, kebanggaan itu bukanlah identik dengan "riya", setidaknya "bersyukur" dari pemberian Alloh. Meskipun motor itu hanya seharga Rp 800.000, akan tetapi bisa difungsikan menuju rumah Alloh menegakkan shalat 5 waktu.

Kadang kita terlalu manja bersama fasilitas dunia, dan menutup mata pada pemanfaatan bermajelis ilmu agama. Jangankan menggunakan motor, niatpun tak muncul sedikitpun. Sementara ilmu lebih utama ketimbang harta. Harta malah kita menjaganya, akan tetapi ilmu, malah kita yang dijaganya.

Hmm.

Taman sejuk bersama pedagang sosis. Tak terlupakan memonya. Ada sesuatu paling berkesan. Karena pedangan itu, adalah pecinta ilmu. Bayangkan, sambil berdangan, di etalase jualannya tersimpan pula buku bacaan agama. Saat tak ada lagi konsumen, mulailah ia menyelami ilmu via bacaan. Merupakan hal jarang kita lihat, kebanyakannya pedangan belakangan ini hanya berorientasi dunia. Menjual sembari meninggalkan ilmu agama. Menjual tapi tak ada berkah ketika menerima hasil jualan.

Hmm.

Rasanya beruntung mendapatkan sahabat pedangan "sosis" yang mencintai ilmu agama. Ketimbang meraih sahabat "berkantong tebal", membenci ilmu keselamatan dunia dan akhiratnya. Naudzubillah.
5 Februari 2012

بارك الله فيك

0 comments:

Post a Comment

Silahkan diisi, komentar Anda sangat membangun: بارك الله فيك